Latest Post
Kantor pusat perusahaan :
PT Elnusa Petrofin
Head Office, Graha Elnusa 12th Floor,
Jl. TB. Simatupang Kav. 1B, Cilandak
Jakarta Selatan 12560
Telp. (021) 78830860
Fax. (021) 78830853
Dalam mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan dalam visi dan misi perusahaan selanjutnya dalam bulan September tahun 2016 ini lowongan kerja terbaru PT Elnusa Petrofinkembali membuka lowongan kerja bagi para pencari kerja yang baru lulus ataupun yang telah memiliki pengalaman kerja untuk mengisi jabatan pekerjaan dalam dalam jabatan lowongan yang tertera dibawah ini, bagi pencari kerja yang berminat harap memperhatikan dengan seksama requirement atau persyaratan yang dibutuhkan pada setiap jabatan atau dalam jabatan yang dibutuhkan demi memperlancar dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Adapun dibawah ini adalah lowongan jabatan pada peluang kali ini dibuka oleh pihak perusahaan dengan kualifikasi sebagai berikut.

AWAK MOBIL TANGKI PT ELNUSA PETROFIN

Persyaratan Pencari Kerja
 :
  • Pendidikan min. SMA/SMK
  • Usia 25 sd 45 tahun
  • Tidak mempunyai gangguan pendengaran
  • Tidak memiliki penyakit diabetes
  • Kesehatan umum / fisik normal dan aman untuk mengemudi
  • Tidak mempunyai penyakit hipertensi
  • Tidak mengkonsumsi / tidak ada ketergantungan pada obat obatan terlarang dan alkohol
  • Memiliki indra penglihatan yang normal dan aman untuk mengemudi menurut ukuran kesehatan (dengan atau tanpa bantuan kaca mata)

Berkas Lamaran
 :
  • Foto copy KTP dan kartu keluarga masing masing 2 lembar
  • Foto copy SIM B2 umum minimal SIMB 1 Umum yang masih berlaku dua lembar
  • Foto copy surat pengalaman kerja dibidang tranportasi mengemudi angkutan SIM B1 umum minimal 3 tahun atau angkutan umum SIM B2 minimal dua tahun
  • Pas foto ukuran 3×4 dan 4X6 masing masing 4 lembar
  • Surat sehat / medical cek up dan surat keterangan tidak buta warna dari dokter
  • Surat bebas narkoba
  • Surat SKCK dari kepolisian (tidak memiliki catatan kepolisian, kriminal atau pelanggaran jalan raya serius)

Tata Cara Pendaftaran
 :
Diharapkan bagi para pencari kerja yang berminat dengan dengan lowongan diatas dan merasa memenuhi seluruh kebutuhan yang dipersyaratkan untuk dapat segera melengkapi berkas lamaran kerja meliputi CV , Ijazah dan Transkrip Nilai dan berkas pelengkap lainnya seperti Foto terbaru , kemudian harap silahkan mengikuti tata cara pendaftaran yang ditentukan oleh perusahaan dengan mengirimkan lamaran via POS atau LANGSUNG ke alamat :




PENGEMBANGAN PARTISIPASI WARGA KOMUNITAS
(Laporan Responsi Mata Kuliah Pengembangan Masyarakat)




Oleh
Kelompok 3
Budi Setiawan                              1214121040
Pamungkas Desta Swandaru        1214121116
Rumse Fitriana S                          1314121024
Triono                                           1214121220
Wening Tyas Aprilia                    1214121225












JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015



I.     PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang



Partisipasi warga dalam pembangunan dapat dibedakan menjadi 2 antara lain partisipasi yang bersifat transformasional dan partisipasi yang bersifat instrumental. Adapun partisipasi yang bersifat transformaional dicirikan dengan adanya partisipasi sebagai tujuan, munculnya swadaya, berkelanjutan dan terjadinya perubahan pola pikir dari masyarakat. Sedangkan partisipasi yang bersifat instrumental dicirikan dengan partisipasi warga sebagai alat mengembangkan diri, pencapaian target atau tujuan, dan pembangunan. Kedua jenis partisipasi tersebut memiliki manfaat bagi pelaksanaan pembangunan.

Jadi, untuk menggerakkan partisipasi warga, seseorang mahasiswa harus memahami kondisi dan kebutuhan masyarakat. Kebutuhan masyarakat tersebut dapat diidentifikasikan melalui pemahaman desa secara partisipatif (Participatory Rural Appraisal) atau pemahaman desa secara cepat (Rapid Rural Appraisal). Dengan demikian diharapkan mahasiswa setelah membuat laporan dan mengikuti kegiatan responsi ini dapat menyusun rencana kegiatan dalam rangka meningkatkan partisipasi warga komunitas dalam pembangunan.

1.2    Tujuan Responsi



Adapun tujuan dari kegiatan responsi ini adalah diharapkan mahasiswa dapat mengetahui rencana kegiatan dalam kegiatan dalam rangka meningkatkan partisipasi warga komunitas dalam pembangunan serta dapat mengidentifikasi kebutuhan masyarakat melalui pemahaman desa secara partisipatif (Participatory Rural Appraisal) maupun pemahaman desa secara cepat (Rapid Rural Appraisal) dan dapat mengetahui keunggulan dan kekurangan dari pemahaman tersebut.





II.                PENGEMBANGAN PARTISIPASI WARGA KOMUNITAS




2.1    Langkah-Langkah Penyusunan RRA



Pada dasarnya, metode RRA merupakan proses belajar yang intensif untuk memahami kondisi perdesaan, dilakukan berulang-ulang, dan cepat. Metode ini bertujuan untuk menghasilkan pengamatan kualitatif bagi keperluan pembuat keputusan untuk menentukan perlu tidaknya penelitian tambahan dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan.

Metode RRA memiliki tiga konsep dasar yaitu; (a) perspektif sistem, (b) triangulasi dari pengumpulan data, dan (c) pengumpulan data dan analisis secara berulang-ulang (iterative).Sebagai suatu teknik penilaian RRA menggabungkan beberapa teknik yang terdiri dari:
a.       Review/telaahan data sekunder, termasuk peta wilayah dan pengamatan lapang secara ringkas.
b.      Oservasi/pengamatan lapang secara langsung.
c.       Wawancara dengan informan kunci dan lokakarya.
d.      Pemetaan dan pembuatan diagram/grafik.
e.       Studi kasus, sejarah lokal, dan biografi.
f.       Pembuatan kuesioner sederhana yang singkat.
g.      Pembuatan laporan lapang secara cepat.
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam RRA, yaitu:
a.    Efektivitas dan efisiensi, kaitannya dengan biaya, waktu, dengan perolehan informasi yang   dapat dipercaya yang dapat digunakan dibanding sekadar jumah dan ketepatan serta relevansi informasi yang dibutuhkan.
b.    Hindari bias, melalui: introspeksi, dengarkan, tanyakan secara berulang-ulang, tanyakan kepada kelompok termiskin.
c.    Triangulasi sumber informasi dan libatkan Tim Multi-disiplin untuk bertanya dalam beragam perspektif.
d.   Belajar dari dan bersama masyarakat.
e.    Belajar cepat melalui eksplorasi, cross-check dan jangan terpaku pada bekuan yang telah disiapkan.



2.2    Langkah-Langkah Penyusunan PRA



Konsepsi dasar pandangan PRA adalah pendekatan yang tekanannya pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan kegiatan. Metode PRA bertujuan menjadikan warga masyarakat sebagai peneliti, perencana, dan pelaksana program pembangunan dan bukan sekedar obyek pembangunan. Beberapa teknik penerapan PRA anatar lain : (a) Penelusuran Alur Sejarah, (b) Penelusuran Kebutuhan Pembangunan, (c) Analisa Mata Pencaharian, (d) Penyusunan Rencana Kegiatan, (e) Focus Group Discussion, (f) Pemetaan.



Melalui PRA dilakukan kegiatan-kegiatan:
a.    Pemetaan-wilayah dan kegiatan yang terkait dengan topik penilaian keadaan.
b.    Analisis keadaan yang berupa:
1.      Kedaan masa lalu, sekarang, dan kecenderungannya di masa depan.
2.      Identifikasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dan alasan-alasan atau penyebabnya.
3.      Identifikasi (akar) masalah dan alternatif-alternatif pemecahan masalah.
4.      Kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman atau analisis strength, weakness, opportunity, and treat (SWOT) terhadap semua alternatif pemecahan masalah.
c.       Pemilihan alternatif pemecahan masalah yang paling layak atau dapat diandalkan (dapat dilaksanakan, efisien, dan diterima oleh sistem sosialnya).
d.      Rincian tentang stakeholders dan peran yang diharapkan dari para pihak, serta jumlah dan sumber-sumber pembiayaan yang dapat diharapkan untuk melaksanakan program/ kegiatan yang akan diusulkan/ direkomendasikan.
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam PRA, yaitu:
1.      Saling belajar dari kesalahan dan berbagi pengalaman dengan masyarakat
2.      Keterlibatan semua anggota kelompok, menghargai perbedaan dan informal
3.      Orang luar sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai pelaku
4.      Konsep triangulasi
5.      Optimalisasi hasil
6.      Berorientasi praktis
7.       Keberlanjutan program
8.      Mengutamakan yang terabaikan
9.      Pemberdayaan (Penguatan) masyarakat
10.  Santai dan informal

2.3    Keunggukan dan Kelebihan RRA

2.3.1      Keunggulan dalam metode RRA adalah sebagai berikut :
a.    Waktu cepat, biaya murah dan hasil tidak bias.
b.    Dapat melayani policy makers yang ingin memutuskan suatu hal dengan segera dan mereka memerlukan informasi terakhir sebelum keputusan tersebut diambil.
c.    Mampu memonitor dan mengevaluasi proyek atau program pembangunan.
d.   Mampu melakukan identifikasi dan mendiagnosa masalah atau isu baik dibidang penelitian maupun perencanaan.
e.    Dapat membantu dalam pemecahan cara penyebaran tekhnologi (terutama karena kendala sosial dan ekonomi) dan bagaimana mengakomodasi keinginan masyarakat sebagai pengguna tekhnologi.
f.     Mampu memahami suatu permasalahan atau isu dengan perspektif lintas disiplin.
g.    Data membantu dalam menginterprestasikan data kuantitatif yang telah dikumpulkan sebelumnya. Jumlah data yang banyak dan sulit dihubungkan satu dengan lainnya, dapat dipecahkan dengan metode RRA.

2.3.2        Kelemahan dalam metode RRA adalah sebagai berikut :
a.       Metode sampling diabaikan.
b.      Reliabilitas dan validitas informasi dikumpulkan secara cepat. Yang lebih menonjol adalah expert judgement peneliti.
c.       Tidak mampu mengungkapkan data kuantitatif.
d.      Banyak pengambil kebijakan lebih tertarik dengan data konkret, misalnya suatu tekhnologi telah diadopsi masyarakat sebesar 70%, daripada informasi tentang adopsi tekhnologi meningkat.


2.4    Keunggukan dan Kelebihan PRA

2.4.1      Keunggulan  dalam metode PRA adalah sebagai berikut :

a.     Melibatkan seluruh kelompok masyarakat.
b.    Keikutsertaan masyarakat miskin.
c.    Rasa tanggung jawab masyarakat akan keberlangsungan program lebih besar.
d.   Melibatkan gender pada program.
e.    Cocok diterapkan dimana saja.




2.4.2      Kelemahan  dalam metode PRA adalah sebagai berikut :

a.       Tidak semua fasilitator program memiliki kemampuan yang baik dalam memfasilitasi masyarakat.
b.      Pendekatan PRA identik dengan rapat-rapat, pertemuan-pertemuan, dan musyawarah-musyawarah yang sifatnya umum.
c.       Sebagian fasilitator belum terampil dalam memfasilitasi pengolahan dan analisis informasi.





III.             KESIMPULAN




Metode RRA dan PRA dalam pengembangan partisipasi warga komunitas  saling berhubungan erat. Kedua metode tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangannya  masing-masing dan bisa saling melengkapi.  Namun dalam perkembangannya, metode PRA banyak digunakan dalam proses pelaksanaan program pembangunan secara partisipatif, baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pengawasannya.



DAFTAR PUSTAKA




Beebe, James. 1995. Basic Concepts and Techniques of Rapid Appraisal.
Human Organization, vol. 54, No. 1, Spring.

Chambers, R. 1996. Participatory Rural Appraisal: Memahami Desa Secara
Partisipatif. Oxfam – Kanisius. Yogyakarta.

Gitosaputro, S. 2006. Implementasi Participatory Rural Appraisal (Pra) Dalam
Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam. Lampung. http://fkmannassri.blogspot.sg/2014/03/materi-metode-pemberdayaan-masyarakat.html http://malut.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=179:mengenal-participatory-rural-appraisal-pra&catid=28:buku&Itemid=30

Kartasasmita, G. 1997. Pemberdayaan Masyarakat: Konsep Pembangunan Yang
Berakar Pada Masyarakat . Disampaikan pada Sarasehan DPD GOLKAR Tk. I. Jawa Timur.

http://munabarakati.blogspot.sg/2014/02/makalah-pemberdayaan-masyarakat-
pesisir.html

http://widyaastuti-agrittude.blogspot.sg/2011/10/prinsip-prinsip-metode-dan-
teknik.html


PENGORGANISASIAN WARGA KOMUNITAS
(Laporan Responsi Mata Kuliah Pengembangan Masyarakat)




Oleh
Kelompok 3
Budi Setiawan                              1214121040
Pamungkas Desta Swandaru        1214121116
Rumse Fitriana S                          1314121024
Triono                                           1214121220
Wening Tyas Aprilia                    1214121225






logounila3.jpg





JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
                                                              2016
I.     PENDAHULUAN




1.1    Latar Belakang


Komunitas atau masyarakat adalah pelaku dalam proses pembangunan.  Dalam pembangunan masyarakat yang berkelanjutan, filosofi mengenai masyarakat adalah pelaku atau subjek dalam pembangunan harus dipertahankan.  Hal tersebut dapat diartikan sebagai pemberian kesempatan kepada warga komunitas yang berperan dalam proses dalam pembangunan.  Sebagai pelaku dalam proses pembangunan, masyarakat dapat menentukan apa yang menjadi keinginannya, merencanakan, melaksanakan usaha untuk memenuhi kebutuhan, serta mengevaluasi apa yang telah dikerjakannya (Sunspirit,2009).

Pelaksanaan kegiatan pengembangan masyarakat oleh komunitas membutuhkan partisipasi dari masyarakat. Oleh karena itu, dalam prosesnya masyarakat diikut sertakan mulai dari identifikasi masalah dan kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi. Hal-hal tersebut menjadi bahan dalam kegiatan turun lapang kali ini.







1.2    Tujuan


Adapun tujuan dilakukannya kegiatan turun lapang ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengidentifikasi masalah dan kebutuhan dari sebuah program di Kelurahan Tanjung Senang
2.      Mengetahui tahap perencanaan suatu program
3.      Mengetahui tahap pelaksanaan suatu program
4.      Mengetahui cara pemantauan suatu program
5.      Mengetahui cara evaluasi suatu program





II.      GAMBARAN UMUM




2.1    Gambaran Umum

Tempat                             : Kantor Kelurahan Tanjung Senang Kecamatan
              Tanjung Senang, Bandar Lampung
Waktu                              : Kamis, 23 Mei 2016
Narasumber                      : Sekretaris Kelurahan Tanjung Senang
               Bapak Fathul Ilmi
Jumlah KK                       : 2.800 KK
Letak Geografis               : Utara             : Kelurahan Labuhan Dalam
               Selatan         : Kelurahan Way Dadi
               Barat                        : Kelurahan P. Way Halim
               Timur            : Kelurahan P. Way Kandis
Mayoritas Pekerjaan         : Wiraswasta

2.2    Program Kerja Unggulan


Program kerja unggulan dari kelurahan Tanjung Seneng Baandar Lampung yaitu:
1.         Puskesmas Kelurahan


2.         Pelatihan Kelompok Tani
3.         Ekonomi Kerakyatan (EKOR)
4.         Bantuan Bedah Rumah
5.         Perbaikan Infrastruktur.




















III.        HASIL DAN PEMBAHASAN




3.1  Tahap- tahap Pengorganisasian


Adapun tahap- tahap pengorganisasian warga komunitas adalah sebagai berikut:

1.         Identifikasi Masalah dan Kebutuhan


Pemantauan atau monitoring adalah suatu proses pengumpulan dan menganalisis informasi dari penerapan suatu program termasuk mengecek secara reguler untuk melihat apakah kegiatan atau program itu berjalan sesuai rencana sehingga masalah yang dilihat atau ditemui dapat diatasi.

Menurut Abraham Maslow kebutuhan manusia tersusun dalam suatu kesatuan yang hierarkis, susunan yang hierarkis tersebut menunjukan bahwa pemenuhan kebutuhan pada tingkat tertentu akan menjadi dasar bagi usaha seseorang untuk memenuhi kebutuhannya.

Hierarki kebutuhan menurut Maslow :
a.  Kebutuhan Fisologis, kebutuhan pokok manusia, seperti; makan, minum, tidur.


b.  Kebutuhan rasa aman, kebutuhan ini tidak hanya secara fisik saja akan tetapi rasa aman secara psikologis, seperti; tubuh yang sehat, terlindung dari bahaya.
c.  Kebutuhan sosial, manusia sebagai makhluk sosial adakalnya memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesamanya atau yang lainnya maksudnya adalah manusia perlu berinteraksi untuk melaksanakan fungsinya sebagai makhluk sosial, seperti; berkawan, berkelompok, berkeluarga.
d. Kebutuhan esteem, kebutuhan akan pangakuan orang lain untuk dihargai mengenai keberadaannya dan statusnya di masyarakat, seperti; pengakuan akan martabat, derajat, status sosial, kedudukan.
e.  Kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan untuk mengekspresikan diri, seperti; mengembangkan kegemaran, pengetahuan dan keterampilan tertentu.


2.         Perencanaan


Perencanaan adalah suatu kegiatan atau proses penganalisisan dan pemahaman sistem, penyusunan konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan demi masa depan yang baik (Soekidjo, 2003). Perencanaan menurut Bintoro Tjokroaminoto dalam Husaini Usman (2008:60) adalah proses mempersiapkan kegiatan-kegiatan secara sistematis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut T.Hani Handoko (1984:74) bahwa dalam perencanaan ada beberapa langkah, diantaranya adalah:
a.       Tahap I           : menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan.
b.      Tahap II         : merumuskan keadaan saat ini.
c.       Tahap III        : mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan, dan
d.      Tahap IV        : mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk
  mencapai tujuan.

Menurut Husaini Usman (2011 : 65), Perencanaan bertujuan untuk :
1.      Standart Pengawasan, yaitu mencocokkan pelaksanaan dengan perencanaannya,
2.      Mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan.
3.       Mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya), baik kualifikasinya maupun kuantitasnya,
4.      Mendapatkan kegiatan yang sistematis termasuk biaya dan kualitas pekerjaan,
5.      Meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif dan menghemat biaya, tenaga dan waktu,
6.      Memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerjaan,
7.      Menyerasikan dan memadukan beberapa sub kegiatan,
8.      Mendeteksi hambatan kesulitan yang bakal ditemi, dan
9.      Mengarahkan pada pencapaian tujuan.


3.         Pelaksanaan

Pelaksanaan adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci, implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap siap.
Secara sederhana pelaksanaan bisa diartikan penerapan. Majone dan Wildavsky mengemukakan pelaksanaan sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky mengemukakan bahwa  Pelaksanaan adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan.

Faktor-faktor yang dapat menunjang program pelaksanaan adalah sebagai berikut:
a.       Komunikasi, merupakan suatu program yang dapat dilaksanakan dengan baik apabila jelas bagi para pelaksana. Hal ini menyangkut proses penyampaian informasi, kejelasan informasi dan konsistensi informasi yang disampaikan;
b.      Resouces (sumber daya), dalam hal ini meliputi empat komponen yaitu terpenuhinya jumlah staf dan kualitas mutu, informasi yang diperlukan guna pengambilan keputusan atau kewenangan yang cukup guna melaksanakan tugas sebagai tanggung jawab dan fasilitas yang dibutuhkan dalam pelaksanaan;
c.       Disposisi, sikap dan komitmen dari pada pelaksanaan terhadap program khususnya dari mereka yang menjadi implementasi program khususnya dari mereka yang menjadi implementer program;
d.      Struktur Birokrasi, yaitu SOP (Standar Operating Procedures), yang mengatur tata aliran dalam pelaksanaan program. Jika hal ini tidak sulit dalam mencapai hasil yang memuaskan, karena penyelesaian khusus tanpa pola yang baku.



4.         Pemantauan


Pemantauan merupakan kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk membantu menjamin bahwa arahan manajemen telah dijalankan dengan tepat dan benar.
Pemantauan atau monitoring adalah suatu proses pengumpulan dan menganalisis informasi dari penerapan suatu program termasuk mengecek secara reguler untuk melihat apakah kegiatan atau program itu berjalan sesuai rencana sehingga masalah yang dilihat atau ditemui dapat diatasi.


5.         Evaluasi


Secara umum, istilah evaluasi sapat disamakan dengan penaksiran (appraisal), pemberian angka (ratting) dan penilaian (assessment) kata-kata yang menyatakan usaha untuk menganalisis hasil kebijakan dalam arti satuan nilainya. Dalam arti yang lebih spesifik, evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan.

Stark dan Thomas (1994) menyatakan bahwa evaluasi yang hanya melihat kesesuaian antara unjuk kerja dan tujuan telah dikritik karena menyempitkan fok us dalam banyak situasi pendidikan. Hasil yang diperoleh dari suatu program pembelajaran bisa banyak dan multi dimensi. Ada yang terkait dengan tujuan ada yang tidak. Yang tidak terkait dengan tujuan bisa bersifat positif dan bisa negatif. Oleh karena itu, pendekatan goal free dalam melakukan evaluasi layak untuk digunakan.
Walaupun tujuan suatu program adalah untuk meningkatkan prestasi belajar, namun bisa diperoleh hasil lain yang berupa rasa percaya diri, kreatifitas, kemandirian, dan lain-lain.

Dalam kajiannya tentang pelayanan sosial, Boyle (dalam Suharto,2005:120).Sosial utama dari evaluasi adalah diarahkan kepada keluaran (output), hasil (outcomes), dan dampak (impacts)dari pelaksanaan rencana stategis. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan yang transparan dan akuntabel dan harus disertai dengan penyusunan sosial kinerja pelaksanaan rencana yang sekurang-kurangnya meliputi:
1.      Sosial masukan
2.      Sosial keluaran
3.      Sosial hasil

3.2  Pola- Pola Pengorganisasian warga komunitas
Rothman dan Tropman (1987) membagi pola pengembangan masyarakat menjadi tiga pola yaitu
1.      pengembangan komunitas
Pengembangan komunitas memiliki kategori tujuan lebih memberikan penekanan pada proses, dimana komunitas diintegrasikan dan dikembangkan kapasitasnya dalam upaya memecahkan masalah warga komunitas secara kooperatif berdasarkan kemauan dan kemampuan menolong diri sendiri sesuai dengan prinsip demokrasi (Nasdian, 2014).


2.      Perencanaan sosial, dan
Perencanaan sosial memiliki kategori tujuan yang berorientasi pada penyelesaian masalah.
3.      Aksi sosial.
Sedangkan pola aksi sosial mengarah pada task goal dan process goal.

3.3    Pembahasan

Adapun kegiatan pengembangan masyarakat unggulan di Kelurahan Tanjung Senang pada tahun 2016 yaitu sebagai berikut :
1.      Puskesmas Kelurahan
a.       Identifikasi masalah dan kebutuhan
Puskesmas kelurahan merupakan sarana pendukung kesehatan bagi masyarakat di kelurahan Tanjung Senang. Puskesmas ini merupakan salah satu program pemerintah Kota yang wajib ada di setiap wilayah. Jika dilihat dari pendapatan setiap masyarakat yang berbeda-beda sehingga kebutuhan dan kemampuan masyarakat tersebut dalam memantau kesehatannya pun berbeda. Puskesmas kelurahan dibuat umumnya lebih kepada kesejahteraan masyarakat. Karena kesejahteraan hidup dapat meliputi kesehatan dan kemampuan.
b.      Perencanaan
Proses perencanaan dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan instansi terkait. Pihak kelurahan Tanjung Senang hanya sebagai fasilitator.


c.       Pelaksanaan
Dalam pelaksanaannya, pihak kelurahan Tanjung Senang dibantu oleh dokter, bidan, dan apoteker yang umumnya merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil.
d.      Pemantauan
Proses pemantauan secara langsung dilakukan dengan ikut serta dalam kegiatan puskesmas kelurahan. Pihak kelurahan umumnya menjadi bagian administrasi.
e.       Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi dilakukan bersamaan dengan evaluasi dari kegiatan pengembangan masyarakat lainnya, yaitu 1 kali dalam 1 bulan atau 1 kali dalam 1 tahun.

2.      Pelatihan Kelompok Tani
a.       Identifikasi masalah dan kebutuhan
Pengadaan benih, pupuk, lahan, pengairan, dan sarana teknologi pertanian membutuhkan modal. Dan pengetahuan terbatas mengenai pertanian juga menghambat berjalannya kegiatan tersebut.
b.      Perencanaan
Pengadaan kegiatan pelatihan kelompok tani tidak semata-mata hanya memberikan pengetahuan baru kepada petani.
Dinas Pertanian yang terbagi menjadi bagian pengadaan pupuk, bagian pengadaan benih, dan bagian alat mesin pertanian merupakan inti dari perencanaan kegiatan ini. Dan Koperasi Daerah yang merencanakan dibagian permodalan. Tentunya dengan kelurahan sebagai pihak penghubung antara masyarakat petani dengan koperasi.
c.       Pelaksanaan
Kegiatan pelatihan kelompok tani dilakukan 1 kali dalam 1 bulan.
d.      Pemantauan
Pihak kelurahan ikut turun langsung dalam kegiatan tersebut sehingga pemantauan secara langsung dapat dilakukan.
e.       Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi bersamaan dengan evaluasi kegiatan lainnya setiap 1 tahun.

3.      Ekonomi Kerakyatan (EKOR)
a.       Identifikasi masalah dan kebutuhan
Mayoritas pekerjaan masyarakat di kelurahan Tanjung Senang adalah wiraswasta. Mereka yang ingin berwiraswasta tetapi kekurangan modal mengusulkan diri untuk mendapat bantuan permodalan dari pemerintah Kota melalui pihak kelurahan. Sebagai fasilitator dan penghubung antara masyarakat dengan pemerintah Kota dan masyarakat dengan Koperasi Daerah merupakan tugas kelurahan Tanjung Senang dalam kegiatan EKOR.
b.      Perencanaan
Kegiatan EKOR direncakan oleh Dinas Ekonomi, Dinas Sosial, dan Koperasi Daerah. Pihak kelurahan hanya menjadi fasilitator dan penghubung pihak terkait dengan masyarakat.
c.       Pelaksanaan
Dalam pelaksanaannya 60 pengusaha yang dibantu permodalannya dalam 1 tahun dengan 2 kali pemberian modal dengan total sebesar Rp 2.000.000,-.
d.      Pemantauan
Proses pemantauan dilakukan kelurahan secara langsung, yaitu dengan mengamati perkembangan dari usaha yang telah dibantu permodalannya. Apabila usaha tersebut berjalan dengan baik, maka ada kemungkinan pengusaha dapat mengusulkan bantuan modal lagi.
e.       Evaluasi
Proses evaluasi dilakukan bersamaan dengan kegiatan lain

4.      Bantuan Bedah Rumah
a.       Identifikasi masalah dan kebutuhan
Kesejahteraan masyarakat di kelurahan Tanjung Senang pasti berbeda. Ada masyarakat yang kesejahteraan hidupnya tinggi, ada pula sebaliknya. Kegiatan bantuan bedah rumah merupakan kegiatan pemerintah Kota yang diberikan kepada masyakarat ekonomi menengah ke bawah melalui kelurahan. Pihak kelurahan akan melakukan survei kepada warganya mengenai syarat kegiatan ini.
b.      Perencanaan
Proses perencanaan kegiatan dilakukan oleh pemerintah Kota, tetapi proses pengusulan sasaran dilakukan oleh pihak kelurahan Tanjung Senang.


c.       Pelaksanaan
Kelurahan Tanjung Senang bertindak sebagai penghubung antara pemerintah Kota dengan masyarakat yang terkait. Sehingga dalam pelaksanaannya pihak kelurahan hanya melakukan survei, membantu administrasi, dan mengusulkan.
d.      Pemantauan
Kegiatan bantuan bedah rumah merupakan kegiatan yang memerlukan biaya tinggi. Oleh karena itu, pemantauan ekstra perlu dilakukan agar tidak terjadi penyalahgunaan atau hal-hal yang tidak diinginkan. Pihak kelurahan turun langsung dalam pelaksanaan pemantauan kegiatan.
e.       Evaluasi
Umumnya dalam setiap rapat kerja atau rapat evaluasi kerja, hambatan, kekurangan, dan kelebihan suatu kegiatan dianalisis. Pelaksanaan evaluasi bersamaan dengan kegiatan lainnya.

5.      Perbaikan Infrastruktur
a.       Identifikasi masalah dan kebutuhan
Kelurahan Tanjung Senang mengusulkan daerah dalam cakupan wilayahnya yang memerlukan perbaikan infrastruktur kepada Dinas Pekerjaan Umum. Perbaikan tersebut bisa berupa perbaikan jalan, jembatan, dan trotoar.
b.      Perencanaan
Sudah merupakan tugas Dinas Pekerjaan Umum untuk memperbaiki infrastruktur milik pemerintah.
c.       Pelaksanaan
Proses ini dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum.
d.      Pemantauan
Oleh karena biaya yang diperlukan tidaklah sedikit, maka pemantauan ekstra dilakukan dalam setiap pengadaan bahan, pelaksanaan kerja, dan penyelesaian kerja.
e.       Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum bersama dengan pihak kelurahan Tanjung Senang.

Pola Pengorganisasian
Rothman dan Tropman (1987) membagi pola pengembangan masyarakat menjadi tiga pola, dari ke tiga pola tersebut yang paling tepat untuk lokasi tanjung seneng yaitu dengan pola Perencanaan sosial memiliki kategori tujuan yang berorientasi pada penyelesaian masalah karna beberapa program kerja unggulan di tanjung senang berdasarkan kebutuhan, masalah yang ada di desa Tanjung Senang tersebut yang diusulkan.






IV.   KESIMPULAN




Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan turun lapang ini yaitu, setiap kegiatan dari Kelurahan Tanjung Senang memiliki dasar permasalahan dan dasar kebutuhan. Selain itu, kegiatan tersebut perlu adanya proses perencanaan yang selanjutnya dilaksanakan dan dipantau agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika seluruh proses telah dilakukan dan mendapatkan hasil, lakukanlah evaluasi mengenai hasil tersebut, hambatan kegiatan, kekurangan, dan kelebihan dari kegiatan untuk dapat memperbarui kegiatan tersebut selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA




Nasdian. 2014. Pengembangan Masyarakat. Jakarta (ID): Yayasan Pustaka Obor
Indonesia.

Rothman dan Tropman. 1987. Models of Community Organization and Macro
Perspectives: Their Mixing and Phasing. Illionis (US): F.E. Peacock Publishers

Sunspirit. 2009. Melihat Komunitas Lebih Dekat. Forjusticeandpeace.wordpress.com
diunduh pada 25 mei 2015  pukul 19.30 WIB



LAMPIRAN


 

20150330_105840


MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

triono. Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget